Published On: Mon, Nov 25th, 2013

Umur Sejarah Sebuah Masyarakat

Umur Sejarah Sebuah Masyarakat“Itulah hari-hari (kemenangan dan kekalahan) Kami pergilirkan diantara umat manusia.” (QS 3:140  )

Begitulah Allah menuturkan kepada kita sebuah sunnah yang kemudian menjadi hukum sejarah; bahwa kemenangan dan kekalahan adalah piala kehidupan yang dipergilirkan Allah kepada semua masyarakat manusia. Maka kita kemudian menyaksikan fakta sejarah seperti ini; bahwa setiap bangsa mengalami proses jatuh bangun dalam sejarah kehidupannya. Dan umat Islam bukan merupakan pengkecualian dari fakta ini.

Ibnu Khuldun bahkan menyatakan bahwa masyarakat atau bangsa itu sama seperti individu; sama-sama melalui tahapan perkembangan kehidupan dari kelahiran, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa tua dan kemudian mati.

Akan tetapi kematian masyarakat sejarah selalu mempunyai dua dimensi; kematian ras dan kematian budaya. Kematian ras berarti masyarakat itu memang punah seperti yang dialami umat Nabi Luth. Kematian budaya berarti bahwa ras masyarakat itu masih ada, tapi peran budaya dan peradabannya sudah habis. Misalnya masyarakat Yunani yang dulu pernah melahirkan sejarah besar dengan Socrates, Plato dan Aristotelesnya kini hanya menjadi tempat wisata.

Umat Islam memang tidak pernah mengalami kematian ras. Karena agama ini ada pada semua ras. Tapi ia bisa mengalami kematian budaya dan peradaban. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap umat itu ada ajalnya, dan ajal umatku adalah seratus tahun. Maka jika ajalnya tiba, datanglah kepadanya apa yang telah dijanjikan Allah untuknya.”

Saat-Saat Kebangunan Sejarah Islam
Sekarang marilah kita melihat sejarah kita. Marilah kita melihat saat kebangunan sejarah kita. Masa kenabian Rasulullah saw hanya 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Tapi dalam rentang waktu itu Islam yang semula hanya dimulai dari Rasulullah saw kemudian dapat menguasai seluruh jazirah Arab. Bahkan beberapa saat sebelum Beliau wafat, Beliau telah membentuk sebuah pasukan yang akan berangkat ke luar jazirah Arab untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Lalu pada masa keempat Khulafaur Rasyidin yang berlangsung hanya 30 tahun, Islam telah meruntuhkan kerajaan Persia dan menguasai seluruh wilayah yang menjadi subordinat Romawi. Islam telah menguasai daratan Iran, Irak dan Azerbijan yang menjadi pintu gerbang ke wilayah Asia, sehingga Islam bahkan telah sampai ke Cina pada masa Utsman bin Affan ra. Islam telah membebaskan wilayah Syam yang menjadi pintu gerbang menuju ke Eropa dan menguasai Mesir yang menjadi gerbang menuju Afrika. Jadi, pada 50 tahun pertama, Islam telah menguasai wilayah seluas itu.

Begitulah Islam terus berkembang, baik pada jumlah pemeluknya maupun pada luas wilayahnya. Dan puncak dari semua prestasi perluasan itu adalah penaklukan Konstatinopel pada abad ketujuh Hijriah di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih Murad. Dan usia peradaban sejarah kita berlangsung sampai 1000 tahun (1 millenium)

Ketika Saat-Saat Kejatuhan Itu Tiba
Virus kejatuhan sejarah Islam sesungguhnya mulai bercokol pada tubuh umat ini pada akhir masa Khulafaur Rasyidin. Tapi kesaksian sejarahnya baru terlihat beberapa abad kemudian. Dan ini minimal ditandai dengan dua serangan besar kepada dunia Islam, invasi Tartar dan Perang Salib. Pasukan Tartarlah yang berhasil menjatuhkan Bagdad. Mereka menyembelih lebih dari 80.000 orang muslim dan membakar semua buku yang ada diperpustakaan. Sejarawan lain menukil kisah ini; seorang prajurit Tartar berdiri di jalan-jalan kota Bagdad. Ketika ia melihat ada orang muslim yang lewat, ia mengatakan kepadanya; “Stop! Berdiri dan tunggu aku di sini. Aku akan kembali ke rumah mengambil pedang dan menyembelih lehermu !”Orang Tartar itu kemudian kembali kerumahnya dan mengambil pedang. Lalu kembali dan menemukan orang muslim tadi masih berdiri di situ. Ia pun menyembelihnya.

Dan inilah fenomena lama yang terus berulang dan berlangsung sampai hari ini. Di saat jutaan mata muslim menyaksikan fakta kehidupan barbarisme berlangsung di Negeri Irak. Di saat jutaan hati manusia muslim tersayat dengan kebiadaban tentara wanita Amerika terhadap puluhan laki-laki muslim yang terhina di dalam penjara Abu Gharib.

Demikian pula dengan Perang salib yang berlangsung dari abad kelima sampai abad ke tujuh Hijriah yang terjadi dalam 8 gelombang perang akbar. Mereka berhasil menguasai Plestine dan Al-Quds selama 90 tahun. Dan dikisahkan bahwa kuda-kuda mereka berenang di atas darah kaum muslimin.”

Kita memang menang pada babak akhir kedua perang di bawah pimpinan Muzaffar Qutuz Baibarz dan Salahudin Al-Ayyubi. Tapi yang perlu kita catat adalah fakta ini; sejarah kita setelah abad ketujuh Hijriah justru mengglinding dari ketinggian menuju rawa keruntuhan. Sementra itu, sejarah Eropa setelah abad itu justru mengalami grafik naik, sesuatu yang kemudian mengantar mereka mengalami masa Renaissan.

Imam + Amal Saleh= Hidup Berkualitas 
Cobalah mengamati proses jatuh bangun itu, Anda akan melihat kenyataan ini; ketika sejarah kita pasang ternyata kita sedang di atas puncak keimanan kita dan ketika sejarah kita surut ternyata kita berada di titik terendah dari keimanan kita.

Sebab kaidah kehidupan yang dijelaskan dalam Al-Quran mengatakan: “Barang siapa yang melakukan amal saleh dari laki-laki atau wanita sedangkan ia beriman, niscaya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS 16:97)

Jadi dibalik pasang sejarah kita ada iman dan amal saleh dan dibalik surut sejarah kita ada iman yang dingin yang tidak memberikan vitalitas kehidupan dan ada tangan-tangan kotor yang tidak berdaya dan tidak mampu melakukan kebaikan. Setiap kali kita berbicara tentang keimanan sealalu ada dua dimensi yang harus kita sentuh; Pertama, nilai-nilai yang diimani dan Kedua, kualitas manusia yang mengimani.

Nilai-Nilai Islam
Nilai-nilai Islam itulah sesungguhnya yang menjadi rahasia kekuatan sejarah kita. Karena nilai-nilai itu sepenuhnya merupakan kebenaran, kebaikan dan keindahan yang turun dari Allah. Dan ketika nilai-nilai itu diterapkan dalam realitas kehidupan, ia segera menciptakan keajiban sejarah. Dan itulah yang terjadi ketika sejarah umat mencapai puncaknya, bahwa setiap individu muslim saat itu adalah Al-Quran berjalan, adalah hadits berjalan. Karena keduanya merupakan sumber dari mana mereka menemukan petunjuk yang membimbing mereka dalam cara berfikir, cara merasa dan cara bertindak.

Contoh yang penting tentang ini semua adalah kesederhanan dan kebersahajaan para pemimpin pada waktu itu, sebagaimana yang diperankan Khalifah Umar bin Khattab ketika ditemui utusan kerajaan Romawi dan Umar bin Abdul Aziz.

Dari sini lahirlah kesejahteraan dan kemakmuran yang sesungguhnya. Si miskin tidak pernah merasa kelaparan dan Si kaya terus bersyukur dengan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah swt. Karena itu pada masa Umar bin Abdul Aziz, kita ketemu dengan cerita ini;

“Amil-amil zakat dari negara berkeliling di Afrika –yang kini menjadi kantong-kantong kemiskinan dunia- untuk mencari mustahik zakat. Tapi anehnya tak satupun yang bersedia menerima zakat. Sedangkan aturannya mengharuskan kas Negara itu dicairkan untuk semua kaum muslimin. Akhirnya Negara (Baitul Mal) membuat pengumuman yang agaknya tidak akan terulang lagi sepanjang sejarah; “Setiap warga yang ingin menikah silahkan datang ke Kas Negara, Negara akan mendanai pernikahannya.”

Manusia Muslim
Manusia muslim itulah dimensi kedua dari keimanan yang menjadi rahasia di balik pasang sejarah Islam. Ketika Rasulullah menyampaikan khutbah wada’ pada tahun ke sepuluh hijriah, jumlah kaum muslimin hanya sekitar 125.000 orang. Akan tetapi inilah komunitas yang menjadi cikal bakal pemimpin perdaban dunia selama 1000 tahun. Perhatikan kekuatan dan kualitas manusia muslim pada masa kejayaannya dalam dua ayat ini;

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia  telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizing Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS 8:65-66) 

Jadi perbandingan kualitasnya dalam keadaan normal adalah 1:10, dan dalam keadaan lemah adalah 1:2.

Adapun tentang pengaruh nilai, bacalah surat Umar bin Khattab ra kepada Amr bin Al-Ash, “Wahai Amr, sesungguhnya kita hanya dapat menglahkan orang-orang kafir itu karena ketakwaan kita dan kekafiran mereka. Maka ketika kita berdosa kepada Allah, tiada lagi sumber kemenangan yang kita miliki, sebab-sebab orang-orang kafir selalu melebihi kita dalam sarana perang dan jumlah pasukan. Maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.”

Ketika pasukan Tartar berhasil meruntuhkan Bagdad, sebenarnya yang terjadi di jantung Khilafah Islam adalah ini; ada khalifah yang lalim, ada ulama yang meninggalkan umatnya, ada masyarakat yang hidup mewah, hedonis dan berlumuran dosa. Apakah masyarakat yang menjadikan symbol kehidupannya anggur dan wanita, harta dan tahta akan eksis di dunia?

Mulai Dari Sini
Jika kita ingin membangun sejarah kita kembali, mulailah dari sini; kembalikan nilai-nilai Islam dalam realitas kehidupan dan lahirkan manusia muslim baru!.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sampai mereka merubah apa yang dalam diri mereka sendiri.” (QS 13: 11) 

 

Latest posts by admin (see all)

About the Author

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Close
Dukung Kami !!!
Klik tombol dibawah ini, Terima Kasih